Persiapan Menjadi Ibu untuk Anak Cerdas

Di tengah pandemi saat ini, banyak banget webinar, kulwap, kulzoom dan istilah baru lainnya untuk pembelajaran secara online (you name it). Beberapa hari yg lalu aku ikutan salah satu webinar yg diisi oleh dr. Davrina Rianda dgn judul “Persiapan Diri Menjadi Ibu untuk Anak Cerdas”.

Webinar ini dilakukan via aplikasi pembelajaran online bernama Fammi. Di aplikasi ini, ternyata banyak banget kelas online yg membahas tentang keluarga dan parenting, baik yg berbayar maupun gratis. Mantep banget! Tampilan aplikasinya juga bagus dan sangat user-friendly kok.

Back to our topic, di postingan kali ini aku mau share poin-poin penting yg aku pelajari dari pemaparan dr. Davrina. Semoga bermanfaat 🙂

***

Rahasia di balik kecerdasan anak: Asah, Asih, Asuh

  • Asah berkaitan dgn stimulasi yg harus kita berikan untuk melatih kecerdasan anak. Misalnya dengan membacakan buku, melatih cara berjalan, melatih menggenggam benda, dsb.
  • Asih berkaitan dgn kebutuhan emosi yg perlu untuk kita penuhi. Misalnya memberikan rasa aman dan nyaman, melindungi, memperhatikan bakat dan minat anak, dsb.
  • Asuh berkaitan dgn kebutuhan fisik/biologis yg perlu kita penuhi. Misal dengan memberikan asupan gizi yg baik, melakukan imunisasi, menjaga kebersihan rumah, dsb.

Sel Penyusun Otak dan Perkembangan Otak Anak

Otak manusia terdiri dari struktur yg sangat kompleks. Ada miliaran sel dalam otak kita. Namun sel-sel tsb belum tersambung satu sama lain. Disini lah peran kita sbg orang tua untuk mendukung dan mengoptimalkan kemampuan sel-sel otaknya. dr.Davrina menggambarkan bahwa penyambungan sel otak itu seperti “jalan pintas” yg harus diperbanyak. Semakin banyak sambungan sel otak atau “jalan pintas”, maka semakin cepat dan mudah anak dalam berpikir. Nah, penyambungan sel otak ini terjadi secara masif sejak di dalam kandungan hingga usia 3 tahun. Inilah mengapa 1000 hari pertama kehidupan anak sangat penting. Ga cukup dengan pemenuhan nutrisi yg baik (asuh) aja, tapi asah dan asihnya juga harus kita penuhi.

Persiapan

1. Persiapan diri sendiri

Persiapan diri adalah yg paling besar dampaknya dan paling bisa kita kontrol. Ada 3 poin penting dalam persiapan diri sendiri:

– Kesiapan mental

Untuk mencegah maternal depression (dari prenatal hingga anak dewasa), kita harus mengenali kemampuan diri dan mampu mengendalikan pressure/stress yg kita hadapi. Misalnya, saat masih single kita gapunya beban pikiran lain selain urusan pekerjaan. Namun ketika menjadi working mom, kita dihadapkan dgn berbagai urusan anak, deadline kerjaan hingga pekerjaan domestik yg numpuk. Kita harus mampu menghandle pressure/stress tsb.

Sebelum hamil, kita harus latihan mengelola pressure/stress. Misalnya dengan mengontrol reaksi kita, tetap merespon orang-orang yg penting di tengah pressure, memperbaiki mood, dan punya problem solving skills yg efektif.

– Kesiapan dalam pengambilan keputusan

Wanita adalah pemimpin di rumah tangga suaminya. Sebagai seorang ibu, kita akan dihadapkan dengan banyak pengambilan keputusan untuk urusan rumah tangga. Misalkan sesimpel menentukan menu yg akan dimasak hari ini, besok, dsb.

– Kesiapan ilmu

Untuk memantau tumbuh kembang anak, kita harus tau milestone apa aja yg dapat kita jadikan acuan. Misal untuk pertumbuhan anak, kita bisa mengacu ke kurva pertumbuhan anak menurut WHO. Sedangkan untuk perkembangan anak, kita bisa mengacu ke kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) atau mengguncakan denver developmental screening test (DDST). Sebagai al ummu madrasatul ula, kita juga perlu untuk mencari banyak informasi mengenai berbagai metode pendidikan untuk anak-anak. Misalnya Motenssori, metode yg sering kudengar dari Ibuknya Kirana dan Rumaysaa hehe. Semangat untuk terus belajar dan nambah wawasan ya 🙂

2. Persiapan diri dan pasangan

dr. Davrina menjelaskan, bahwa peran ayah dan ibu itu tidak saling menggantikan. Parenting itu tidak hanya urusan ibu saja. Tapi kerjasama ibu dan ayah. Untuk menjadi orangtua dari anak yg cerdas, ga cukup kalau cuma kita aja yg mempersiapkan diri. Pasangan kita pun juga harus mempersiapkan dirinya #eaa. Jauh-jauh hari sebelum sang buah hati lahir, kita harus mempersiapkan at least dua hal berikut bersama pasangan kita:

  • Family values yang match antara ibu dan ayah (nilai-nilai apa aja yg akan ditanamkan bersama pada diri anak?)
  • Keadaan sosioekonomi keluarga (single or double income? pengeluaran rumah tangga dikelola oleh si istri sendiri atau suami? dsb)

3. Persiapan keluarga dan lingkungan rumah

Ranah ini adalah yg paling sulit kita kendalikan namun juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Mempersiapkan keluarga dan lingkungan rumah yg kondusif dalam mendidik anak cerdas bisa dilakukan dengan:

  • Sounding nilai-nilai yg akan kita tanamkan pada anak. Hal ini sangat penting terutama jika kita tinggal serumah dengan anggota keluarga lainnya seperti orangtua kita / mertua / saudara kandung / ipar. Misalkan, kita sbg orangtua mengijinkan anak untuk bermain kotor-kotoran sepuasnya (messy play). Lalu bagaimana dgn anggota keluarga lain yg ada di rumah, sependapat atau tidak? Jika kita sbg orangtua ingin menanamkan nilai tanggung jawab pada diri anak dgn membiarkannya main kotor-kotoran sepuasnya dgn syarat ia harus belajar membersihkan/membereskan sisa mainannya, maka kita harus sounding dulu ke anggota keluarga yg lain agar satu pemahaman.
  • Diskusi seputar referensi yg digunakan dalam mendidik anak. Misalkan, kita sbg orangtua menggunakan sistem hukuman dalam mendisiplinkan anak, namun ketika anak berbuat salah, tetap dibenarkan/dimanjakan oleh anggota keluarga lain yg ada di rumah. Contoh lain, kita sbg orangtua menganut parenting style yg meminimalisir kalimat larangan (misal, “Jangan nangis!”, “Ga boleh teriak!”) namun anggota keluarga lain yg ada di rumah kerap menggunakan kalimat larangan terhadap anak kita. Inconsistency seperti ini harus didiskusikan, caranya dgn menjelaskan mengapa kita menggunakan prinsip tsb, referensinya darimana, dsb.
  • Pembiasaan metode asah asih asuh bersama-sama.

That’s it! Sebenarnya sesi Q&A-nya juga ga kalah seru tapi kalau dibahas semua disini nanti postnya jadi kepanjangan hehe. Semoga bermanfaat ya.. dan semoga Allah Subḥānahu wataʿālā mampukan kita untuk menjadi orangtua yg baik kelak. Aamiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s